Inilah hari kedua di blog ini, dan hal yang paling menggelitik untuk ditulis (daripada dipendam dalam pikiran) di kotak pasir adalah tentang berita hoax murahan yang berhasil menjadi bahan keresahan warga ibukota dan sekitarnya. Apalagi kalau bukan issu seputar penculikan dengan motif perdagangan organ tubuh.
Beberapa rekan di tempat kerja maupun kenalan dunia maya sempat menyinggung issu ini, termasuk juga media online ikut-ikutan memberitakan keresahan yang tak terbukti. Diissukan ada penculikan yang sadis terhadap korban anak-anak, korban dibantai dan organnya diambil, lalu mayat korban dikembalikan beserta sejumlah uang.
Salah seorang blogger dan pengguna twitter yang sangat influencing menulisklan tweet begini:
“di Ciampea, #Bogor ada anak diculik&diambil organ dalamny.Di atas mayatny dtaro uang rp.20juta.
Memang sih, masih ada kata “katanya” dalam tweetnya, tapi tetap aja menggelitik. Berita yang hampir-hampir sama juga bisa ditemukan di headline media-media online.
Padahal, coba kita pikirkan sedikit lebih kritis. Pencangkokan organ manusia bukanlah hal mudah. Tidak sembarang dokter, apalagi dukun dan perawat gadungan bisa melakukan operasi transplantasi organ. belum lagi peralatan yang diperlukan. Lebih dari itu, kecocokan antara donor dan akseptor organ harus benar-benar diperhatikan sehingga tidaklah mungkin organ dari korban penculikan yang ditarget secara acak dapat begitu saja dipasang pada penerima (akseptor) transplantasi organ.
Jadi kalau ditelaah lebih jauh, sepertinya pada warga kita secara umum ada sisi-sisi kepribadian yang cenderung lebay, heboh, sensasional, dan tidak mencoba memikirkan sesuatu secara lebih kritis, lebih rasional. Hal ini diperparah dengan sikap sok peduli, sehingga ketika ada sesuatu berita yang mengenaskan, kita jadi mudah untuk meneruskan.
Tidak heran jika berita kriminal dan infotaiment juga menjadi jualan yang laris oleh media.